iman… ilmu… amal…
Media Informasi MTs. Manba'ul Huda – Bandung
-
7 Langkah Membangun Percaya Diri
Filed under Artikel Santri 01Mar 4Tak dapat dipungkiri kita semua pasti pernah mengalami rasa tak percaya diri sesekali waktu. Adakalanya agak sulit untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri itu sewaktu kita sedang membutuhkan. Sebenarnya ada latihan sederhana yang dapat dipraktekkan untuk mendapatkan rasa percaya diri Antum agar kembali ke jalurnya secepat mungkin saat dibutuhkan. Berikut kami sampaikan tujuh langkah membangun rasa percaya diri yang tak tergoyahkan.
1. Perhatikan Postur Tubuh – Mungkin kedengarannya ini tak memiliki hubungan dengan rasa percaya diri yang kita bicarakan ini, tetapi sebenarnya bagaimana sikap duduk atau berdiri Antum, mengirimkan pesan tertentu pada orang-orang yang ada di sekekliling Antum. Jika pesan tersebut memancarkan rasa percaya diri, Antum akan mendapatkan tanggapan positif dari orang lain dan tentu saja ini akan memperbesar rasa percaya diri Antum sendiri. Jadi mulai perhatikan sikap duduk dan berdiri untuk menunjukan Antum memiliki rasa percaya diri.
2. Bergaulah Dengan Orang-Orang Yang Memiliki Rasa Percaya Diri Dan Berpikiran Positif – Lingkungan membawa pengaruh besar pada seseorang. Jika Antum terus menerus berbaur dengan orang yang memiliki rasa rendah diri, pengeluh dan pesimis, seberapa besarpun percaya diri yang Antum miliki, perlahan tapi pasti akan pudar dan terseret mengikuti lingkungan Antum. Sebaliknya, jika Antum dikelilingi orang-orang yang penuh kebahagiaan dan percaya diri, makan akan tercipta pula atmosfir positif yang membawa keuntungan bagi diri Antum.
3. Ingat Kembali Saat Antum Merasa Percaya Diri – Percaya diri adalah sebuah perasaan, dan jika Antum pernah merasakannya sekali, tak mustahil untuk merasakannya lagi. Mengingat kembali pada saat dimana Antum merasa percaya diri dan terkontrol akan membuat Antum mengalami lagi perasaan itu dan membantu meletakan kerangka rasa percaya diri itu dalam pikiran.
4. Latihan – Kapanpun Antum ingin merasakan rasa percaya diri, kuncinya adalah latihan sesering mungkin. Bahkan Antum dapat membawanya dalam tidur. Dengan kemampuan yang terlatih, Antum tak akan kesulitan menampilkan rasa percaya diri kapanpun itu dibutuhkan.
5. Kenali Diri Sendiri – Pikirkan segala hal tentang apa yang Antum sukai berkenaan dengan diri sendiri dan segala yang Antum tahu dapat Antum lakukan dengan baik. Jika Antum kesulitan melakukan ini, ingat tentang pujian yang Antum peroleh dari orang-orang – Apa yang mereka katakan – Antum melakukannya dengan baik? Sebuah gagasan bagus untuk menuliskan semua ini, hingga Antum bisa melihatnya lagi untuk mengibarkan rasa percaya diri kapanpun Antum membutuhkan inspirasi.
6. Jangan Terlalu Keras Pada Diri Sendiri – Jangan terlalu mengkritik diri sendiri, jadilah sahabat terbaik bagi diri Antum. Namun, saat seorang teman sedang melalui masa sulit, Antum tak akan mau terlibat dalam masalahnya hingga menguras emosi Antum sendiri kan? Tentu saja Antum tak mau. Pebicaraan yang positif dapat berubah jadi senjata terbaik untuk menaikan rasa percaya diri, jadi pastikan Antum menanam kebiasaan ini, jangan biarkan permasalahan orang lain membuat Antum jadi terpuruk.
7. Jangan Takut Mengambil Resiko – Jika Antum seorang pengambil resiko, Antum pasti akan temukan kalau tindakan ini mampu membuahkan rasa percaya diri. Tak ada yang lebih bermanfaat dalam menumbuhkan rasa percaya diri layaknya mendorong diri sendiri keluar dari zona nyaman. Selain itu, tindakan ini juga berfungsi bagus untuk mengurangi rasa takut Antum akan ha-hal yang tak Antum ketahui, plus bisa dari pembangkit rasa percaya diri yang luar biasa.
Lebih dari segalanya, selalu ingatlah bahwa Antum memiliki bakat dan kemampuan. Pastikan Antum selalu melakukan yang terbaik untuk semua itu dan inilah yang akan jadi batu loncatan terbaik untuk membangun rasa percaya diri yang tak tergoyahkan.
-
Mar 4
Sobat, mungkin sebelumnya kalian sudah paham tentang emansipasi yang sekarang menuntut persamaan hak kaum wanita di setarakan dengan kaum adam itu. Banyak sekali keuntungan yang di dapat bagi kaum perempuan. Tapi, apakah semua itu sudah baik? Apakah sesuai dengan Al-qur’an dan Sunnah? Lalu bagaimana kebebasan perempuan pada jaman Rasul? Yuk kita bahas satu-per satu.
Emansipasi wanita adalah hal yang dulu diperjuangkan oleh seorang RA Kartini. Emansipasi berarti kebebasan atau kemerdekaan. Beliau memperjuangkan hal ini karena beliau merasa ada yang salah dengan hak-hak kaum wanita pada saat itu. Seperti wanita saat itu sangat sulit mendapatkan pendidikan kecuali bagi orang yang ningrat dan wanita tidak punya profesi lain selain mengurus rumah tangga dan ber urusan dengan dapur. Karena beliau sendiri merasakan bagaimana sulitnya mendapatkan ilmu dan melihat langsung nasib-nasib wanita yang berada dalam golongan rakyat biasa. Lalu, ia merasa adat istiadat sangat mengganggu dan membelenggu dirinya dan wanita lainnya. Lalu ia pun memulai perjuangannya dengan mengajarkan ilmu yang ia dapat, dan mencoba menggebrak adat istiadat. Lalu ia pun berhasil walau tak sepenuhnya sukses dan sekarang beliau dikenal sebagai wanita pejuang emansipasi wanita.
Sebenarnya, dalam hal ini Islam sudah sejak dahulu mengangkat derajat wanita. Dengan di utusnya Rasulullah SAW dan di turunkan wahyu padanya, maka saat itulah wanita di naikan derajatnya dari zaman jahiliya yang mengartikan wanita itu tidak bisa apa-apa dan kotor, menjadi seorang makhluk yang indah dan di lindungi dengan berbagai kekuasaan Nya. Pada masa Islam, wanita benar-benar di hormati dan di lindungi dengan berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits, bahkan Allah secara khusus membuat surat ber nama An-nisa sebagai penghormatan dan petunjuk bagi kaum wanita. Hal ini lah yang menjaga wanita dari segala hal yang buruk. Tapi meski wanita di jaga dan di lindungi, mereka tetap mendapatkan hak dan kebebasan mereka sebagai wanita dan manusia, mereka bisa ber dagang, menuntut ilmu, dll.
Namun sekali lagi kebebasan wanita itu di jaga dan berada dalam koridor aturan Al-Qur’an dan As-sunnah. Karena kedua hal itu kelak menjadi pelindung wanita dari masa ke masa. Dan hal ini dapat dibuktikan pada jaman sekarang, dimana persamaan hak dan derajat wanita dan pria di setarakan, juga HAM di kumandangkan di mana-mana. Kedua hal ini justru disalah artikan sehingga membuat makin bebasnya wanita dan semakin rusaknya wanita. Sekarang dapat dilihat di mana-mana wanita sudah banyak yang tidak malu memperlihatkan aurat nya secara ekstrem di depan publik, dan dapat di pastikan, kian kemari moral bangsa ini akan ikut ambrol.
Padahal sudah seharusnya wanita bersyukur suda di beri perlindungan yang terdapat dalam Al-qur’an. Namun sebagian orang yang sudah terlena dan terjerumus kedalam pemikiran idealis dan meng kiblat ke barat menganggap hal itu hanya sebuah pengekangan terthadap hak-hak mereka. Karena berfikir bahwa keindahan tubuh mereka sayang untuk di tutupi. Padahal Allah sengaja menyuruh kaum wanita untuk menutup auratnya agar terhindar dari fitnah, mudah di kenali, dan menjadi pelindung dari pandangan orang lain. Dan tidak sepatutnya bagi seorang muslimah menyalah artikan atau melebihkan kebebasan yang telah ada, karena itu melanggar hukum Allah Azza wa Jalla.
Maka emansipasi yang sebenarnya adalah bukan berarti wanita bebas seperti laki-laki umumnya. Karena bagai manapun juga wanita itu beda dengan laki-laki. Islam pun tidak melarang kebebasan bagi wanita, asalkan kebebasan ini tidak akan pernah keluar dari koridor Islam, juga merujuk pada Al-qur’an dan As-sunnah. Maka kita sebagai wanita haruslah kembali ke fitrah kita sebagai perempuan, dan kita harus bersyukur dengan fitrah kita sebagai waita. Karena apapun yang kita hadapi, maka itulah jalannya dan saya pernah dengar dari seorang ukhti yang dekat dengan saya, dia mengatakan ini ketika saya di rundung masalah. Ia mengatakan: Apapun masalah mu ukhti, “kau hebat karena kau wanita!”.
I’m muslimah all the way and I proud !
-
Saudara, Cerminan Diri Kita
Filed under Artikel Santri 01Mar 4Ada perumpamaan bahwa seorang muslim adalah cermin bagi saudaranya yang lain. Seorang muslim hendaknya sudi atau rela berbagi waktu untuk menasehati saudaranya yang lain. Seperti cermin yang selalu memberi tahu akan kekurangan orang yang bercermin, baik itu dari segi penampilan, noda diwajah atau yang lainnya, seorang muslimpun jangan sungkan untuk memberi tahu akan kekurangan saudaranya. Bukankah kita diperintahkan untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran?
Adapun seorang muslim yang sejati hendaknya selalu meminta saran atau kritik (dikoreksi) kepada seorang saudaranya yang lain untuk perbaikan diri. Dan janganlah marah bila seorang saudara seiman mengoreksi diri kita, walaupun pedas ada baiknya bila kita terima, rasa obat memanglah pahit adanya, adapun pujian walaupun manis rasanya, tapi bisa menjadi racun pada akhirnya.
Seorang muslim sejati hendaknya terampil untuk memilih teman, karena temannya itu akan menjadi cerminan dirinya, pun sebaliknya. Perlu diingat, bahwa teman terbaik adalah teman yang tidak pernah sungkan memberi tahu kekurangan saudaranya, dan juga tidak pernah sungkan memberi tahu kesalahan dirinya. Teman sejati bukanlah seorang yang selalu memuji dan membenarkan laku lampah kita, bisa jadi dialah yang mendorong kita menuju neraka, naudzubillah…
-
Belajar Bahasa Arab, yuk…!
Filed under Artikel Santri 01Mar 4Sebagaimana yang telah menjadi keyakinan dalam diri kita adalah bahwasanya jalan yang memberi kita jaminan keselamatan dan kenikmatan Islam adalah satu dan tidak berbilang-bilang yaitu mengilmui dan mengamalkan ajaran Al-Kitab dan As-Sunnah sesuai dengan yang diajarkan Rosululloh dan dipahami oleh para sahabatnya. Dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan, “Aku tinggalkan sesuatu bersama kalian, jika kamu berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabulloh dan Sunnahku”.
Dan Alloh telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran karena bahasa Arab adalah bahasa terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Alloh, “Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.”(Yusuf : 2) .Oleh karena itu tidak perlu diragukan lagi, memang sudah seharusnya bagi seorang muslim mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Hal ini ditegaskan oleh firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, “Dan sesungguhnya Al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Pencipta Semesta Alam ,dia dibawa turun oleh Ar ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas”(Asy Syu’ara:192-195).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Alloh dan menegakkan syiar-syiar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim:162)
Beliau juga berkata, “Dan sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah di dalam ilmu ushul fiqh : apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib. Namun di sana ada bagian dari bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah. Dan hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah, dari Umar bin Yazid, beliau berkata : Umar bin Khoththob menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya) “…Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan i’roblah Al-Quran karena Al-Quran itu berbahasa Arab.” Dan pada riwayat lain, beliau (Umar bin Khattab) berkata, “Pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian, dan belajarlah ilmu faroid (ilmu waris) karena sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian.”(Iqtidho Shirotil Ibrohim]Mustaqim:207)
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa agama Islam dan bahasa Al-Quran, tidak akan dapat memahami Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman yang benar dan selamat (dari penyelewengan) kecuali dengan bahasa Arab. Menyepelekan dan menggampangkan bahasa Arab akan mengakibatkan lemah dalam memahami agama serta jahil (bodoh) terhadap permasalahan agama. Marilah kita pelajari bahasa Arab…!
-
Mar 4
Banyak manusia yang tertipu oleh kehidupan dunia. Mereka bekerja begitu keras bahkan sampai 12 jam lebih sehari hanya untuk kebahagiaan di dunia. Namun sayangnya banyak yang tidak menyisakan setengah jam pun untuk kehidupan akhirat dengan zikir dan beribadah kepada Allah.
“(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” [Al A’raaf:51]
Bahkan ada yang tidak mau mengingat Allah sama sekali dan menganggap kehidupan akhirat hanyalah kebohongan yang hanya dipercaya oleh orang-orang yang fanatik agama.
Mereka tahu kematian pasti menimpa siapa saja. Namun mereka tidak pernah mengingat mati dan tidak percaya pada kehidupan sesudah mati.
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” [Faathir:5]
Padahal akhirat itu adalah janji Allah yang benar.
“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” [Al An’aam:130]
Banyak orang yang menumpuk harta dan berbangga tentang banyaknya harta dan anak. Padahal hidup manusia di dunia rata-rata tidak lebih dari 70 tahun. Setelah itu mereka mati dan masuk ke dalam lobang kubur. Jabatan, Harta dan anak tak berguna lagi bagi mereka ketika sudah dikubur.
Bagi yang tidak mau mengingat Allah dan melalaikan sholat, ada siksa kubur yang menunggu mereka:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al Haddid:20]
Jadi, tetaplah bekerja. Namun jangan melupakan akhirat. Bagaimana pun juga akhirat lebih baik dan lebih kekal. Akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya. Dunia hanya sekedar tempat kita lewat. Tempat kita untuk bekerja dan beribadah sehingga memiliki bekal yang cukup untuk di akhirat.
